Menakar Kontribusi Santri Untuk Negeri

Oleh: Ahmad Marzuki, SP.dI, M.Ag

Hampir saja terlupakan sejarah heroik para santri yang turut serta dalam merebut kemerdekaan Indonesia. Tak satupun dalam buku mata pelajaran sejarah mulai tingkat SD sampai SLTA yang mencatat peristiwa “Resolusi Jihad” sebagai salah satu momentum penting bagi bangsa Indonesia dalam mengusir para penjajah. Yang dikenang anak-anak sekolah hanyalah peristiwa 10 November 1945 sebagai hari Pahlawan. Penting dicatat, bahwa pertempuran arek suroboyo melawan pasukan sekutu pada 10 November 1945 di Surabaya tak lepas dari instruksi “Resolusi Jihad” yang diputuskan oleh PBNU melalui KH. Hasyim Asy’ari bersama para ulama’ dan santri pada tanggal 22 Oktober 1945. Sebagaimana diungkap oleh Sayyid Muhammad Asad Shihab, seorang jurnalis dari Timur Tengah yang masih termasuk kakek buyut Prof Dr M Quraisy Shihab, penulis biografi yang luar biasa. Ia pandai menggali data, jernih melihat sekaligus cermat mencatat.

Di tangan beliau pulalah, lahir sebuah buku, yang dalam hemat saya sangat monumental, berjudul Allamah Muhammad Hasyim Asya’ari wadhiu Libinati Istiqlali Indonesia (Mahaguru Muhammad Hasyim Asy’ari Peletak Batu Pertama Kemerdekaan Indonesia). Sebuah buku yang sangat penting untuk dibaca generasi muda kita yang kian hari rasa-rasanya kian kabur sejarah. Dalam buku tersebut terlukis dengan jelas betapa KH Hasyim Asy’ari adalah sosok ulama yang bukan saja fokus mendidik santri-santrinya, namun lebih dari itu. Ia juga menjadi garda depan pemikir utama masa depan bangsa dan negara. Ia pemegang teguh komitmen dalam berbangsa dan bernegara.

Komitmen kebangsaan dan kenegaraan itu tercermin dalam pernyataannya pada momentum Resolusi Jihad yang berbunyi ”berperang menolak dan melawan penjajah itoe fardloe ain (jang harus dikerdjakan oleh tiap-tiap orang islam, laki-laki, perempoean, anakanak, bersendjata ataoe tidak) bagi jang berada dalam djarak lingkaran 94 Km dari tempat masoek dan kedoedoekan moesoeh. Bagi orang-orang jang berada di loear itoe djadi fadloe kifajah (jang tjoekoep, kalaoe dikerdjakan sebagian sadja…”. Diktum Resolusi Jihad yang kemudian menjelma menjadi pemompa semangat dan kenekatan perlawanan rakyat Indonesia yang didominasi sipil dan sebagian besar dari kalangan santri itu adalah karya agung progresif nan revolusioner yang lahir dari pikiran jernih dan hati yang suci dari ulama-ulama dan kiai-kiai saat itu.

Seklumit kisah sejarah di atas menggambarkan betapa besarnya sumbangsih santri dalam memperjuangkan kemerdekan Indonesia. Oleh karenanya, atas jasa-jasa santri itulah, sejak tahun 2015 Presiden Joko Widodo, melalui Keppres No 22 Tahun 2015 telah menetapkan 22 Oktober sebagai Hari Santri. Pertanyaanya kemudian, apa yang sudah diperbuat oleh santri untuk Negeri saat ini???dan bagaimana melakukannya???tentu saja jawabanya bukan berperang dengan mengangkat senjata seperti yang dilakukan oleh kaum santri dalam potret sejarah. Tetapi perang melawan kebodohan, perang melawan kemiskinan, perang melawan korupsi, perang melawan ketidakadilan perang melawan perpecahan sampai terwujudnya masyarakat yang bersatu, berkeadilan, damai, dan sejahtera.

 

Paradigma Santri Tentukan Takaran Kontribusi

Munculnya produk hukum fardlu ain dan fardlu kifaya berperang dan mereka yang gugur termasuk sahid, merupakan hasil ijtihad ulama’ yang tak lepas dari situasi dan kondisi yang melingkupi bangsa Indonesia saat itu. Artinya produk hukum hadir tidak dalam ruang kosong. Paradigma ulama’ dan sanntri saat itu patut diapresiasi, karena mereka tak menutup mata dari berbagai fakta empiris. Hal inilah kemudian yang ingin kami katakan bahwa, meskipun tidak ada dalil yang benar-benar qot’i tentang membela negara tetapi mereka mampu menghasilkan produk Hukum sesuai kebutuhan, sehingga berdampak amat positif bagi segenap rakyat Indonesia untuk membakar semangat tak takut mati daalam usaha mengusir para penjajah. Keberhasilan bangsa Indonesia merebut kemerdekaan tak lepas dari usaha kaum santri dalam mensinergikan antara agama dan nasionalisme.

Sebagaimana yang diungkap oleh KH. Said Aqil Siradj dalam sambutannya selaku Ketua Umum PBNU dalam Forum ISOMIL (International Summit of The Moderete Islamic Leaders) “keselerasan agama dan nasionalisme merupakan kunci dalam membangun peradaban bangsa. Konflik di Negara-negara timur tengah seperti Syria, Irak, Lybia, Yaman yang notabene penduduknya mayoritas beragama Islam tak akan pernah selesei jika tak mampu mensinergikan antara agama dan Nasinonalisme”. Dalam konteks yang berbeda, saat ini santri dihadapkan dengan berbagai isu kontemporer, baik isu lokal, nasional, maupun internasional. Cara berfikir santri dalam merespon isu kontemporer akan sangat menentukan seberapa besar kontribusinya bagi agama dan negara. Saat ini ada dua isu utama yang sedang muncul ke permukaan. Pertama, isu SARA yang berpotensi memecah belah Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan kedua, isu terorisme dan radikalisme yang mengakibatkan fenomena Islam Phobia di eropa.

Ada berbagai bentuk ijtihad dan reaksi yang berbeda dalam usaha mempertahankan keutuhan NKRI saat ini. Salah satu tonggak keutuhan NKRI adalah terwujudnya kerukunan antar umat beragama di Indonesia. Lebih dari itu, terwujudnya kerukunan antar umat beragam di Indonesia sebagai bentuk “show of force” kepada masyarakat dunia internasional, bahwa Indonesia yang dihuni oleh mayoritas pemeluk agama Islam terbesar di dunia mampu mewujudkan perdamaian. Ada sekelompok ulama’ dan santri mampu menyikapi isu ini dengan pola berfikir inklusif, mampu menghasilkan produk-produk hukum yang akomodatif. Semisal dalam menyikapi persoalan doa bersama yang melibatkan umat lintas agama dalam perspektif fiqh. Melalui kajian deskripsi masalah yang mendalam, para santri mampu menghasilkan opsi-opsi produk hukum yang berbeda (Haram, Makruh, dan Mubah). Tentu saja berbagai opsi hukum memiliki dasar dan maksud yang berbeda. Sebagaimana dinyatakan oleh Jasser Auda dalam bukunya Maqasid al-Shariah as Philosophy of Islamic Law: a Systems Approach, fiqh memiliki sifat dasar elastis dan fleksibel. Fiqh merupakan hasil dialektika antara teks otoritatif dan realitas kemanusiaan, dialektika antara wahyu dan akal, yang harus dibaca secara cerdas. Dialektika itulah yang kemudian diharapkan melahirkan berbagai keputusan yang benar-benar bisa membumi. Membumi dalam artian disini adalah, apapun produk hukum fiqh yang dihasilkan harus benar-benar menjawab berbagai persoalan bangsa demi menjaga keutuhan NKRI.

Namun patut disayangkan, ada sekelompok santri dengan seperangkat paradigma keilmuan yang Ia miliki, berusaha memaksakan diri agar sekelompok santri lain mengikuti model yang Ia miliki, bahkan mereka dengan mudahnya menuduh santri yang bersebrangan dengan dirinya sebagai pendusta agama dan pendakalan aqidah. Padahal Nabi Muhamad SAW sendiri tak pernah mendebat atau bahkan memaksakan kehendak dalam menentukan hukum. Sebagaimana pendapat Muhammad Abid al-Jabiri dalam bukunya al-Din wa al-Dawlah wa Tathbiq al-Shariah; “sesungguhnya para sahabat Rasulullah SAW tidak pernah menggunakan cara-cara berdebat seperti dilakukan para pemikir zaman sekarang dalam menentukan prinsip dan menerapkannya dalam proses menemukan hukum (istinbath) serta memaksakan diri untuk mengikuti model yang populer dan disukai oleh kelompoknya, namun di dalam majelis-majelis musyawarah itu para sahabat hanya mengurai hukum-hukum dan mengomentarinya berdasarkan pertimbangan maslahah ‘ammah (kemaslahatan umum)”. Jadi, yang perlu ditekankan adalah kemaslahatan umat secara umum, tidak hanya umat Muslim, tetapi juga umat kristiani, budha, Hindu, katholik. karena kita hidup di negara Indonesia yang dihuni oleh berbagai suku, ras dan agama. Dan pada akhirnya paradigma santri dalam memahami pelbagai persoalan kebangsaan secara komperhensif, dengan bekal seperangkat keilmuan variatif dan dengan menggunakan pendekatan multidisiplin yang dapat mempengaruhi sebarapa besar takaran sumbangsinya kepada negeri ini. Teruslah berkarya wahai Santri!tak perlu sibuk mencari kesalahan sesama santri, karena sesungguhnya identitas santri adalah sosok manusia yang produktif dan bermanfaat bagi seluruh umat. 

Wallahu a’lamu bisowab