Redupnya “Air Surga” Mata Air Kabupaten Pasuruan

Oleh: Amang Fathurrahman, M.PdI

Kabupaten Pasuruan Jawa Timur, kota yang diapit dengan Gunung Arjuna dan Gunung Welirang pada bagian Barat Daya dan Gunung Tengger, dengan puncaknya Gunung Bromo di Bagian Tenggara. Dengan potensi pegunungan tersebut maka sumber mata air di Kabupaten Pasuruan cukup melimpah. Potensi ini menjadi daya tarik, khususnya bagi industri yang bergerak di bidang Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) untuk memanfaatkan potensi sumber air Pegunungan yang kaya dengan mineral.

Dalam pengamatan penulis, sepanjang wilayah Kecamatan Gempol, Pandaan, Paserepan, Pohjentrek, Prigen, Rejoso, Sukorejo, Gondangwetan, Purwosari, dan Winongan, sudah berderet puluhan perusahaan air minum skala besar. Kita akan dengan mudah menikmati Aqua dengan kemasan yang bertulis “Mata Air Pandaan, Gunung Arjuno”.

 

Selain itu, beragam brand produk AMDK mulai dari Club (PT. Tirta Bahagia, Pandaan – Indonesia), Cheers (PT. Atlantic Biru Raya, Pandaan – Indonesia), Cleo (PT Sariguna Primatirta), serta beberapa merk lainnya adalah bagian produk air minum yang dihasilkan dari sumber mata air dari Gunung Arjuna Kabupaten Pasuruan. Hal ini juga ditandaskan oleh Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Asosiasi Industri Air Dalam Kemasan Indonesia (Aspadin), Chandra Baruno, pada Musyawarah Daerah (Musda) Aspadin, pada tahun 2014 yang menyatakan bahwa Kabupaten Pasuruan memiliki perusahaan Air Dalam Kemasan terbanyak di Jawa Timur. Untuk pegunungan Tengger, juga menghasilkan sumber mata air Umbulan dengan debit air yang melimpah.

Bahkan sekarang sudah ditetapkan proyek Sistem Penyedia Air Minum (SPAM) Nasional untuk mengalirkan mata air tersebut untuk didistribusikan di 5 kota sekitar Kabupaten Pasuruan. Dengan demikian, bisa kita katakan Kabupaten Pasuruan adalah surga bagi industri air minum dalam kemasan di Indonesia. Surga dunia air minum di Kabupaten Pasuruan ini tentu akan bisa bergeser value-nya apabila tidak dijaga dan dirawat dengan baik, khususnya pegunungan Arjuna dan Pengunungan Tengger. Beberapa studi tentang kualitas air di Kabupaten Pasuruan menunjukkan adanya penurunan debit air.

Hal ini diungkapkan oleh beberapa peneliti dalam sarasehan dan peringatan Hari Air se-Dunia di Pendopo Nyawiji Ngesthi Wenganing Gusti Kabupaten Pasuruan pada 6 April 2017, di antaranya:

Gunawan Wibisono, Hidrolog dari Universitas Merdeka (Unmer) Malang menyatakan bahwa dari hasil penelitiannya debit mata air Umbulan Kabupaten Pasuruan sudah berkurang jauh sejak 30 tahun terakhir. Wibisono mengungkapkan pada tahun 90-an, debit air di Umbulan masih 6000 liter/detik, namun pada tahun 2017 ini hanya pada kisaran 3.200 liter/detik.

Dengan demikian hampir 50%, penurunan debit air. Hal ini tentu sumber Umbulan tidak akan bisa mensuplai untuk distribusikan ke lima daerah di Jatim, dengan kebutuhan 4.000 liter/detik dalam proyek Sistem Penyedia Air Minum (SPAM) Nasional tersebut. Wibisono mengungkapkan faktor dominan penurunan debit air Umbulan karena kerusakan lingkungan dan pemanfaatan air tanah yang berlebihan. Hal ini juga ditandaskan oleh Haris Miftahul Fajar, Peneliti dari Universitas Gadjah Mada, Jogjakarta yang menyatakan bahwa potensi air di Kabupaten Pasuruan termasuk Umbulan terus menurun karena banyaknya ilegal drilling (pengeboran air yang tidak berizin) dengan mengambil air tanah secara terus menerus.

Hasil penelitian tentang semakin menurunnya debit air di kabupaten Pasuruan sudah terasa dampaknya. Dalam esai yang ditulis oleh Bagus Suryo dengan judul “Mati Dahaga di Tengah Telaga” menggambarkan bagaimana perjuangan masyarakat Desa Karangjati Lumbang Pasuruan, salah satu desa yang dekat dengan mata air Umbulan, yang setiap hari harus mengantri untuk mendapatkan air bersih. Di desa dengan mayoritas etnis Madura tersebut harus rela mendapat jatah dua jurigen air per Kepala Keluarga (KK) agar pemerataan air dapat dirasakan oleh semua warga. Apabila ada kecurangan dengan  mengambil lebih banyak air, maka bisa memicu carok, pekelahian yang dilakukan dengan celurit. Kondisi serupa juga dirasakan di beberapa desa yang lainnya di beberapa kecamatan di Kabupaten Pasuruan, diantaranya: kecamatan Lumbang, Pasrepan, Lekok, Nguling, Rejoso, Kejayan, Winongan, Puspo dan Gempol.

Tentu tidak semua desa dalam kecamatan tersebut kekurangan air, namun hal ini mengindikasikan bahwa tidak semua desa terdapat sumber air. Kalaupun ada, maka persoalan distribusi air yang belum merata menjadi persoalan tersendiri bagi masyarakat Pasuruan. Dan yang pasti, hal ini menjadi kontradiktif antara menjamurnya industri dan proyek air minum yang masih dengan belum mampu menjawab pemerataan suplai distribusi air di masyarakat Kabupaten Pasuruan.

Dari beragam persoalan di atas, maka sinergi multipihak menjadi keharusan untuk mengatasi persoalan sumber mata air di Kabupaten Pasuruan. Beberapa tawaran solusi yang bisa dilakukan di antaranya:

  • Diperlukan regulasi yang mengatur untuk melakukan konservasi hutan yang berkelanjutan dengan melibatkan multipihak, agar tangkapan area, khususnya di wilayah pegunungan Arjuna dan pegunungan Tengger terus terjaga. Kabupaten Pasuruan, sebagai salah satu kota yang memiliki basis industri yang besar, perlu membuat regulasi CSR (Corporate Social Responsibility).

Program dalam CSR tersebut, menurut penulis, salah satunya harus berbentuk pemberdayaan masyarakat dalam tata kelola konservasi hutan yang berkelanjutan. Program tersebut jangan hanya bersifat charity yang bersifat formalitas saja. Namun pengembangan CSR ini disinergikan dengan program-program yang sudah direcanakan oleh pemerintah, sehingga terdapat sinergi yang kuat antara pemerintah, dunia industri, serta masyarakat yang juga menjadi bagian dalam program konservasi hutan berkelanjutan tersebut.

  • Pengaturan penebangan pohon harus diimbangi dengan penanaman pohon agar keseimbangan hutan tetap terjaga. Untuk memastikan penebangan pohon di atas angka kewajaran, maka pendataan pohon yang akurat dengan mengembangkan sistem informasi pendataan pohon adalah salah satu solusi yang bisa ditawarkan.

Dengan sistem ini akan dengan mudah memantau perkembangan pohon yang ada dalam hutan tersebut, mulai dari jumlah pohon, jenis pohon, umur pohon, serta lokasi pohon tersebut ditanam. Dengan demikian, maka perencanaan ragam jenis pohon yang dibutuhkan dalam hutan tersebut sesuai dengan kebutuhan hutan, karena hal ini juga berpengaruh pada ekonsistem yang lainnya. Dalam kasus ini, penulis mengapresiasi pengembangan sistem informasi program penanaman pohon dari PT. Tirta Investama. Dalam sistem informasi pohon tersebut sudah dilengkapi dengan tagging online berbasis GPS dari pohon-pohon yang ditanam oleh mereka, sehingga perkembangan penanaman pohon dapat terevaluasi dengan baik.

  • Studi konservasi berkelanjutan. Peran-peran peneliti lingkungan maupun lembaga perguruan tinggi dalam konteks ini dibutuhkan kontribusinya. Dengan studi yang berkelanjutan terkait konservasi, maka akan dapat termonitor perkembangan dan kemanfaatan dari berbagai program konservasi yang sudah dilaksanakan oleh multi pihak. Dengan demikian, program-program konservasi yang akan dilakukan akan semakin terencana dan terarah dengan baik.
  • Pengembangan pendidikan lingkungan hidup pada lembaga pendidikan di Kabupaten Pasuruan. Pendidikan lingkungan ini tidak hanya dilakukan pada sekolah saja, namun semua lembaga, baik formal dan nonformal juga dapat menjadi media pendidikan yang efektif untuk menjaga kelestarian hutan agar sumber mata air di Kabupaten Pasuruan terus terjaga.

Di sekolah sudah ada program adiwiyata yang mendorong civitas akademik untuk lebih memperhatikan lingkungannya. Namun menurut penulis, perlu juga dikembangkan program pendidikan lingkungan pada lembaga nonformal, misalnya Pondok Pesantren. Hemat penulis, jumlah pesantren di Kabupaten Pasuruan yang mencapai 320 lembaga dengan puluhan ribu santri dan didukung dengan lembaga madrasah diniyah sebanyak 1.432 adalah kekuatan potensi yang besar untuk menjadi penggerak cinta lingkungan. Ajaran-ajaran agama Islam tentang lingkungan hidup, diformulasi agar tidak hanya berhenti pada materi ansich, tetapi di design agar bisa menjadi spirit yang implementatif dalam pelestarian lingkungan hidup, salah satunya terkait dengan konservasi hutan di Kabupaten Pasuruan, agar mata air di bumi Pasuruan tetap terus terjaga.

  • Selain ihtiar konservasi dan pendidikan lingkungan di atas, maka tentu kebijakan untuk memastikan distribusi air bagi masyarakat Kabupaten Pasuruan perlu menjadi skala prioritas, agar cerita dari Bagus Suryo dengan judul “Mati Dahaga di Tengah Telaga” bisa berubah menjadi “Hidup di Surga Mata Air Anti Dahaga”.

Dengan demikian, maka sinergi multipihak, baik  pemerintah selaku pemegang regulasi, lembaga swadaya masyarakat, lembaga pendidikan dan yang lainnya sebagai praktisi lingkungan hidup, para peneliti dan akademisi yang terus mengkaji perkembangan lingkungan, akan menjadi sinergi yang luar biasa untuk mengurai redupnya air surga mata air’ di Kabupaten Pasuruan. Semoga catatan kecil ini dapat bermanfaat. (Amang Fathurrahman)