Konsep Pinjaman Dana untuk Mahasiswa

Pinjaman dana pendidikan untuk mahasiswa perlu dikembangkan dengan konsep memberi kembali (giving back) dan gotong royong. Hal ini untuk membuat mahasiswa yang telah menerima pinjaman bertanggung jawab mengembalikan pinjaman yang dibutuhkan untuk memberi kesempatan kuliah bagi anak-anak bangsa lainnya.

Konsep seperti inilah yang diterapkan Putera Sampoerna Foundation, yang mengembangkan pinjaman lunak lewat Koperasi Siswa Bangsa. Dengan pinjaman ini, lulusan SMA/SMK yang berhasrat kuliah namun terkendala ekonomi, bisa mendapatkan pinjaman untuk membiayai kuliah hingga selesai.

Mahasiswa membayar enam bulan setelah lulus kuliah dan memperoleh penghasilannya sendiri. Mahasiswa dapat berkontribusi dengan memberikan 20 persen dari gaji mereka dan disalurkan ke Koperasi Siswa Bangsa. Dana kontribusi ini akan digunakan untuk membiayai generasi siswa berikutnya untuk ke pendidikan tinggi.

“Demi kesinambungan program, kami menekankan filosofi giving back dan gotong-royong. Siswa yang mendapat bantuan dana diharapkan dapat berkontribusi kembali melalui Koperasi Siswa Bangsa untuk membantu adik-adiknya yang juga ingin mengenyam pendidikan tinggi,” jelas Managing Director Putera Sampoerna Foundation, Nenny Soemawinata, Rabu (28/3/2012) di Jakarta.

Nenny menjelaskan, mahasiswa yang mendapatkan bantuan dana atau pinjaman harus menjadi anggota Koperasi Siswa Bangsa. Setiap mahasiswa diajari untuk mengerti akan pentingnya memberi kontribusi bagi perkembangan bangsa, mengingat peluang yang mereka telah peroleh.

Selain menanamkan rasa tanggung jawab, Koperasi Siswa Bangsa juga terus melakukan pendekatan secara kekeluargaan dengan mengadakan gathering dan membekali siswa dengan keterampilan praktis, seperti interview dan juga melakukan penyaluran tenaga kepada perusahaan-perusahaan rekanan Putera Sampoerna Foundation.

Menurut Nenny, konsep yang dipakai Putera Sampoerna Foundation ini sama halnya pinjaman mikro yang dilakukan oleh Grameen Bank di Bangladesh, yang menekankan kesadaran dari masing-masing pihak untuk mengembalikan dana yang telah dikeluarkan.

Implementasi pelaksanaan pinjaman dana pendidikan untuk mahasiswa ini bisa saja dilakukan pemerintah maupun lembaga keuangan. “Jika kampus memiliki kapabilitas untuk melakukan pembiayaan pendidikan, maka hal ini dapat dilakukan sendiri. Namun, jika tidak, mungkin lebih baik bermitra dengan lembaga yang memang ahli di bidang ini,” kata Nenny.[kompas.com]