Ahmad Baso: Perintah Walisanga adalah Menegakkan Islam Nusantara

Kemunculan istilah Islam Nusantara memang baru, namun secara konsep bahkan praktisnya sudah berjalan dari zaman dakwah para walisanga. Para Walisanga, khususnya Sunan Giri, menyebut Islam Nusantara sebagai Din Arab Jawi, yakni Agama Islam dari Arab dengan karakter Jawi.

“Islam Nusantara bukanlah sesuatu yang baru, sudah disebut oleh walisanga, khususnya Sunan Giri. Din Arab Jawi, yakni Islam dari Arab tapi dengan Karakter Jawi. Bahkan Sunan Giri mengatakan harus menegakkan Islam Nusantara tersebut. Kimuddin Arab Jawi, kalimat tersebut ditemukan dalam Serat Suryo Rojo tersebut,” jelas Ahmad Baso, intelektual NU, saat menjadi pengampu kuliah umum bertema Studi Islam Nusantara Perspektif Metodologi Poskolonial, di Program Studi Pascasarjana PAI Multikultural Universitas Yudharta Pasuruan, Sabtu (31/12/2016).

“Ketika Sunan Giri membaiat raja-raja jawa, Sunan Giri memberikan gelar kepada seorang raja dengan gelar ‘Kimuddin Arab Jawi’. Artinya, raja-raja di Jawa harus punya komitmen untuk menegakkan Islam Nusantara. Islam itu bukan cuma Arab atau Din Arab tapi juga perlu pengamalan dan suaranya dari Jawi,” lanjut Baso dalam paparannya.

Baso juga memberikan penguatan bagaimana menegakkan Islam Nusantara pada masa para Walisanga tersebut dan apa yang bisa dilakukan pada saat ini.

“Menegakkan Islam Nusantara, Sunan Derajat dengan suka payunging wong kapanasan, suka tekaning wong kang kalunyon, suka oboring wong kang kepetengan (melindungi orang yang kepanasan, menunjukkan jalan benar bagi orang yang kesasar, dan menerangi orang-orang yang mengalami kegelapan, red.),” ujar penulis buku Agama NU untuk NKRI ini kepada puluhan mahasiswa.

“Adapun Sunan Giri, dalam teks Musawaran, para wali menegaskan, dewe-dewe tekatiro, kumpul bae maksudiro, kita boleh berbeda-beda pendapat, tapi tetap satu tujuan. Dengan begitu, kita tidak mudah menyalahkan orang lain,” tambahnya Baso.

Senada dengan itu, Baso memaparkan kaidah hukum dalam Kitab al-Umm karya Imam Syafi’i terkait Kontekstualisasi Ajaran Islam di mana ia berkembang.

“Dalam Kitab al-Umm, dikatakan bahwa ilmu-ilmu yang dimiliki masing-masing bangsa dan negeri dapat menafsirkan dan mengamalkan Islam. Artinya, ajaran Islam dapat disesuaikan dengan teritori, wilayah, kondisi alam, dan cara pengamalannya masyarakat kita, atau budayanya,” ungkap Wakil Ketua PP Lakpesdam NU Tahun 2010-2015 tersebut.

“Syair Kagem milik Kyai Sholeh ini, ya ini Islam Nusantara juga, sangat Islam Nusantara. Tertulis dalam syair tersebut, bahwa ‘Pondok Ngalah ala Sunan Kalijogo, ngelestarekno agomo lewat budoyo’,” pungkasnya di kuliah umum tersebut.

Sumber: forumdemokrasi.com