Jurnal Ilmiah; Capai Kuantitas, Lalu Kualitas

Surat Edaran Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tentang kewajiban publikasi karya ilmiah di jurnal ilmiah sebagai syarat kelulusan, masih mengundang perdebatan. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh mengatakan, salah satu tujuan kebijakan tersebut adalah untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas jurnal ilmiah Indonesia di tingkat internasional.

“Saat ini yang penting jurnalnya ada dulu. Kalau sudah menjamur baru kita dorong ke peningkatan kualitas. Kita itu kan mau mendorong peningkatan kualitas. Gimana mau dorong, kalo barangnya nggak ada,” ujar Mendikbud M. Nuh, di Gedung A Kemdikbud, pada Selasa malam, (14/2).

Sementara itu, secara kualitas, kebijakan ini bertujuan untuk melatih seseorang berpikir secara sistematis mengenali persoalan, memformulasikan persoalan, dan mengembangkan satu metodologi persoalan, menunjukkan hasil yang telah dikerjakan, serta membangun mindset. Menteri Nuh menuturkan, untuk membuat karya ilmiah yang layak diterbitkan di jurnal ilmiah, seseorang akan berusaha untuk menulisnya dengan berhati-hati dan penuh tanggung jawab, begitu juga dengan dosen pembimbingnya. Hal ini diharapkan dapat memperbaiki jurnal ilmiah dari segi kualitas.

Ia juga mengatakan, dampak kebijakan ini memiliki banyak keterkaitan dalam menjalankannya, terutama dari sisi mahasiswa dan dosen. “Rentetannya itu sebenarnya banyak.  Pertama, memaksa dosen untuk serius melaksanakan bimbingan, karena dosen bertanggungjawab. Di papernya ada nama dosennya,” ucapnya. Sementara dari sisi mahasiswa, seorang mahasiswa dituntut harus bisa merumuskan, dari judul, analisis, hingga kesimpulan. Dengan begitu, diharapkan, kehidupan mahasiswa di kampus, terutama program S-1, akan diwarnai tradisi ilmiah. Hal ini juga merupakan bagian dari pendidikan karakter. “Jadi nggak ada tawuran, nggak berantem lagi,” kata Menteri Nuh. (DM).[kemdikbud.com]