Mahasiswi Administrasi Publik Tembus 8 Besar Paper Competition 2017

Patut di acungi jempol mahasiswi Administrasi Publik Universitas Yudharta Pasuruan tembus delapan besar (final) dalam Indonesia Association for Public Administration (IAPA) Studen Paper Competition 2017 dengan tema Innovation in Public Sector, yang diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Airlangga Surabaya, yang memperebutkan prize, dengan ketentuan juara 1 Rp. 3.000.000,- juara 2 Rp. 2.000.000,- dan juara 3 Rp. 1.500.000,-.

Ajang tahunan ini sangat bergengsi sekali, terbukti banyak perguruan tinggi tumbang dalam seleksi tahap awal, dan Alhamdulillah dengan semangat yang luarbiasa, dibarengi dengan ilmu pengetahuan serta doa, Fatin Alfaza berhasil tembus delapan besar presentasi artikel yang bersaing dengan Universitas Airlangga dan Universitas Padjajaran. Ujar Fatin (13/09/2017)

Dalam artikelnya Fatin mengambil judul Strategi Aparatur Desa dalam Meningkatkan Kesadaran Tertib Administrasi Kependudukan di Kalangan Umat Hindu (Studi di Desa Kayukebek Kecamatan Tutur Kabupaten Pasuruan). dengan isi, Selama ini dokumen kependudukan yang masyarakat ketahui dokumen yang penting hanyalah KTP dan KK, padahal masih ada dokumen lainnya yaitu akta kelahiran, perkawinan dan kematian. Kondisi saat ini yang ada di Desa Kayukebek banyaknya penduduk yang beragama Hindu tidak memiliki surat perkawinan ataupun akta nikah. Sampai kondisi mereka sudah menjadi seorang kakek dan nenek status pernikahan mereka yaitu siri (jika dalam istilah hukum islam) dan bisa dikatakan pernikahan mereka tidak berdasarkan undang-undang. Hal tersebut berdampak kepada anak-anak mereka yang tidak memiliki akta kelahiran. Salah satu penyebabnya adalah masyarakat tidak mengerti akan pentingnya kepemilikan akta kelahiran Disisi lain ketidakpunyaan akta perkawinan sangat merugikan eksistensi umat hindu baik ditinjau dari aspek moral, psikologi maupun administratif.

Hasil penelitian menunjukkan, pertama kondisi administrasi kependudukan di Desa Kayukebek khususnya kalangan umat Hindu saat ini sudah mulai tertib yang mana masyarakat dulunya tidak respon sekarang sudah mulai mengerti dan sadar akan pentingnya administrasi kependudukan. Kedua terdapat beberapa faktor yang menyebabkan warga kurang tertib administrasi kependudukan salah satunya yaitu masyarakat mengeluhkan akan biaya yang mahal, jarak tempuh ke balai desa jauh dan masyarakat kurang memiliki kesadaran dari awal sehingga ketika ada keperluan mendadak saja mereka baru mengurusnya, seperti kebutuhan untuk persyaratan pendaftaran masuk sekolah, pernikahan dan lain sebagainya. Ketiga, strategi aparatur desa dalam meningkatkan kesadaran tertib administrasi kependudukan di kalangan umat Hindu upaya yang dilakukan antara lain dengan mengadakan sosialisasi administrasi kependudukan, pemanfaatan sumber daya manusia, meningkatkan kemampuan aparatur desa untuk melakukan koordinasi dan kerjasama dengan instansi terkait administrasi kependudukan dan mendekatkan pelayanan secara langsung kepada masyarakat.

Daim menambahkan “Walaupun kampus kita swasta, mewah alias mepet sawah, kita harus tetep bersaing, jangan kalah dengan mahasiswa di luar seperti UNAIR, UB, UNPAD, dan kampus besar lainnya, terbukti dengan belajar yang sungguh, mahasiswa kami Faza berhasil lolos delapan besar, dan nantinya bagi mahasiswa administrasi publik lainnya, mari tingkatkan prestasi kalian di kanca nasional” ungkap Lelaki bergelar Doktor dan sebagai Kepala Program Studi Administrasi Publik di Universitas Yudharta Pasuruan. (Nzr)