Perguruan Tinggi Swasta Siapkan Infrastruktur

Perguruan tinggi swasta saat ini fokus mempersiapkan infrastruktur untuk menampung karya tulis mahasiswa melalui pembuatan majalah dan mengurus akreditasi jurnal yang sudah ada. Mahasiswa juga mulai diarahkan menulis karya ilmiah yang ringkas untuk dipublikasikan.

”Kami mendukung upaya untuk meningkatkan kebiasaan menulis kepada mahasiswa dengan publikasi jurnal ilmiah, tetapi kami tetap tidak setuju untuk menjadikannya sebagai syarat kelulusan. Saat ini kami mempersiapkan infrastruktur yang selama ini belum banyak terbangun, seperti pembuatan majalah ilmiah,” kata Sekretaris Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi) layanan Jawa Tengah, Prof Dr Yohanes Sutomo, di Kota Semarang, Kamis (1/3).

Pembuatan majalah-majalah ilmiah itu untuk menampung karya tulis mahasiswa. Adapun jurnal ilmiah yang selama ini sudah ada, didorong mendapatkan akreditasi dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Menolak syarat kelulusan

Aptisi menolak kebijakan publikasi jurnal ilmiah sebagai syarat kelulusan mahasiswa, terutama mahasiswa S-1, karena selain infrastruktur yang belum memadai, kondisi satu perguruan tinggi dengan perguruan tinggi lain sangat berbeda. PTS yang baru berdiri tentu tidak bisa disamakan kondisinya dengan PTS yang sudah berusia puluhan tahun.

Secara terpisah, Rektor Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga Prof Pdt John A Titaley mengatakan, UKSW memulai upaya meningkatkan kebiasaan menulis pada mahasiswa sejak dua tahun terakhir. Kegiatan akademik mahasiswa mulai diarahkan pada kegiatan penelitian.

”Mahasiswa kami arahkan supaya karya tulisnya bukan dalam bentuk skripsi atau tesis yang tebal, tetapi ringkas saja, 25-30 halaman, dengan maksud untuk dipublikasikan. Beberapa fakultas, seperti teknologi informasi, bahasa dan sastra, serta sains dan matematika, sudah memulai,” kata John.

UKSW juga sudah membangun portal untuk publikasi karya tulis mahasiswa secara online. Hal itu pada awalnya dimaksudkan untuk mencegah terjadinya plagiasi. Dengan sistem itu, apakah suatu tulisan pernah ada sebelumnya dapat diketahui dengan mudah.

John mengatakan, kebiasaan menulis seharusnya tidak dibebankan kepada institusi perguruan tinggi saja. Kebiasaan menulis sebaiknya ditanamkan sejak pendidikan dasar sehingga mahasiswa terbiasa menulis saat di perguruan tinggi. (UTI).kompas.com