Prodi IAT Mempersembahkan Seminar Nasional Bertajuk Tren Politisi Ayat-Ayat al-Qur’an

Kali ini Program Studi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir mempersembahkan Seminar Nasional dengan tema “Tren Politisi Ayat-Ayat al-Qur’an dan Masa Depan Perpolitikan di Indonesia” yang bekerjasama dengan Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu al-Qur’an dan Tafsir (HIMAPRODI IAT) Fakultas Agama Islam Universitas Yudharta Pasuruan, bertempat di Aula Pancasila Universitas Yudharta Pasuruan pada hari Minggu. (08/10/2017)

Kegiatan Seminar nasional ini dihadiri oleh dua narasumber handal bidang politik dan agamis, yaitu Dr. Abad Badru Zaman Lc, M.Ag. Belia alumni al Azhar Mesir dan sekarang menjadi dosen Tafsir dan Dekan Fakultas Ushuludin Adab dan Dakwah IAIN Tulungagung Jawa Timur. Sedangkan narasumber kedua yaitu Dr. Hj. Rossa Ilma Silfiah, S.H., M.Hum. beliau merupakan dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Yudharta Pasuruan Jawa Timur, beliau juga aktif di organisasi PC Muslimat NU Bidang Hukum dan Advokasi.

Abad Badru Zaman di sesi pertamanya menjelaskan, al-Qur’an tidak menentukan bentuk baku pemerintahan, Ia hanya mengharapkan adanya pemerintahan, terlepas apakah bentuknya kerajaan, republik, demokrasi atau sosialis. Saat ini untuk berlangsungnya urusan agama, kita tidak memerlukan khilafah, karena khilafah bukanlah solusi. Tidak hanya itu abad memberi pertanyaan kepada audiens, Nabi Muhammad Saw itu apakah seorang Rasul atau Raja? Jika beliau benar-benar berniat membangun negara politik yang harus ditiru oleh umat sepeninggalannya, mengapa agama yang beliau bangun itu tidak mengandung perangkat utama kenegaraan.

Rossa Ilma Silfiah di sesi kedua, beliau menerangkan tentang politik dalam konteks keislaman, yang merujuk pada pertanyaan apakah partai politik di Indonesia sesuai dan mencerminkan semangat Islam atau tidak. Pada dasarnya semua yang terjadi di dunia ini adalah politik. Bagi ekonom, semua yang ada di dunia adalah ekonomi, bagi pengajar, semua yang ada di dunia adalah pendidikan atau pengajaran, oleh karena itu semua tergantung seseorang dari sudut mana dia memandangnya. Rossa juga menjelaskan tentang Pancasila, Pancasila diartikan dalam konotasi positif tidak ada tempat bagi atheisme dan propaganda anti agama di Indonesia. Berbeda dengan Uni Soviet yang mengartikan secara positif sekaligus negatif, dengan memberi jaminan konstitusional terhadap atheisme.

Acara ini sungguh luar biasah, banyak yang hadir dalam seminar nasional ini, ada yang dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, SMA/SLTA se Kabupaten Pasuruan, serta seluruh mahasiswa Universitas Yudharta. Diakhir acara Agus Yusuf Wijaya, Lc selaku wakil dari pengurus Yayasan Darut Taqwa menutup kegiatan ini dengan doa.