Rektor Yudharta: Spiritualitas Gus Dur Rangkap Tiga, Islam Iman Ikhsan

Gus Dur tidak pernah takut dalam membela kelompok-kelompok yang diperlakukan tidak adil hingga melawan penguasa yang lalim, keberanian Gus Dur tersebut tidak lain bersumber dari spritualitasnya yang tinggi dan mendalam.

“Gus Dur tidak pernah takut. Dia punya konsepsi, bahwa dia bersama Tuhannya. Dimanapun, kapanpun, dan dengan siapapun. Selalu berbuat baik kepada siapapun, dimanapun, dan kapanpun”, ujar Dr. H. Saifulah, M.HI., selaku Rektor Universitas Yudharta Pasuruan tersebut saat menjadi pembicara dalam kegiatan Doa dan Ngaji dengan tema “Melacak akar spiritualitas Gus Dur“ yang diselenggarakan oleh Komunitas Gitu Saja Kok Repot (KGSKR) Jaringan Gusdurian (JGD) Pasuruan dalam memperingati Hari Lahir Gus Dur yang ke-77 di Ruang Pascasarjana Universitas Yudharta Pasuruan (4/08/2017). “Karena Gus Dur spiritualnya rangkap tiga, Islam, Iman, Ikhsan,” tambah Ketua FKUB Kabupaten Pasuruan tersebut.

Saifulah juga menceritakan pengalamannya saat di kairo mesir dalam mencari jejak-jejak Gus Dur belajar. “Kami pernah mencari dimana tempat mondok Gus Dur saat di Kairo Mesir. Ternyata Gus Dur mondoknya di makam Syech Amin Kurdi, pengarang Kitab Tanwirul Kulub. Gratis. Saat belajar di Al-Azhar, istilahnya kegampangen, sebab pelajarannya sudah dipelajari di jawa saat di pesantren”, kenang Kepala Pondok di zaman Gus Dur pertama kali berkunjung ke Pesantren Ngalah tersebut. “Bahkan Gus Dur juga menggenggam 35 ragam Thoriqah atau 35 ilmu tasawwuf”, pungkas Doktor dibidang ilmu  Tasawwuf tersebut.

Menurut Bagus Sulistyawan, Gus Dur adalah sosok manusia yang luar biasa dan memberinya inspirasi bersikap lebih toleran. “Gus Dur memberikan inspirasi berbuat toleran dan memberikan manfaat sebanyak-banyaknya kepada orang lain”, kesan Ketua Himaprodi Administrasi Niaga (HIMABIS) Universitas Yudharta Pasuruan 2016-2017 tersebut. Kegiatan dihadiri juga oleh Pdt. David Kurniawan, Pemuda GBIS (Gereja Bethel Injil Sepenuh) Pandaan, PMII Ngalah, PMII Pancawahana, Pagar Nusa UYP, IPPNU, Muslimat, Mahasiswa Universitas Yudharta Pasuruan, dan Santri Pondok Pesantren Ngalah.

 

Penulis: Makhfud Syawaludin

Mahasiswa S2 PAI multikultural