Rintisan TK Bromo Indah Seindah “Spirit” Masyarakat Atas Awan

Belajar Dari Spirit Masyarakat Dusun Surorowo Tutur Pasuruan

Oleh: Amang Fathurrohman, M.PdI

Kesempatan dan akses pendidikan yang sangat terbatas di wilayah Dusun Surorowo yang berada pada wilayah 3T (Terluar, Terjauh, dan Tertinggal) dibandingkan dengan wilayah-wilayah dusun lainnya, memaksa masyarakat Surorowo tidak dapat mengakses pendidikan secara lebih mudah.

Oleh karena itu, program pendampingan masyarakat dalam bentuk Rintisan Pendidikan Usia Dini akan menjadi salah satu usaha yang sangat bermanfaat bagi masyarakat di Dusun Surorowo untuk dapat mendampingi putra-putri mereka dengan pendidikan yang lebih baik.

Dengan menggunakan metode Community Based Research (CBR). Pendampingan yang sudah berjalan sejak Juli 2016 sampai Maret 2017 ini telah berhasil melakukan inisiasi peningkatan akses pendidikan, yang dimulai dari membuat rintisan Pendidikan Anak Usia Dini di dusun tersebut.

Dalam perjalanan, masih banyak kendala yang dihadapi, baik terkait dengan keterbatasan SDM, sarana prasarana, pengalaman pengelolaan kelembagaan, namun semangat masyarakat Dusun tersbut dalam peningkatan kualitas pendidikan bagi anak-anak mereka sangat tinggi, sehingga keterbatasan yang ada tidak menjadi penghalang bagi orang tua untuk mempersiapkan generasi yang lebih baik.

Itulah gambaran ringkasan hasil presentasi dari paper yang saya presentasikan dengan judul “Rintisan Pendidikan Anak Usia Dini Suku Tengger Di Wilayah Terpencil Dusun Surorowo Desa Kayukebek Kecamatan Tutur Kabupaten Pasuruan” pada agenda AnCoMS – 1st-Annual Conference for Muslim Scholar 2017 dengan tema Memperkokoh Kajian Islam Multidisipliner di Era Kontemporer  yang diselenggarakan oleh Kopertais IV Surabaya pada tanggal 13-14 Mei 2017 di Surabaya.

Dalam konferensi yang dihadiri oleh 100 paper terseleksi ini memiliki media sharing dan berbagi para dosen PTKIN maupun PTKIS untuk mendesiminasikan berbagai pemikiran untuk mengurai berbagai feomena, maupun persoalan-persoalan dengan berbagai pendekatan.

Dalam konteks ini, penulis menyuguhkan bagaimana proses pendampingan masyarakat yang dilakukan bersama-sama antara civitas akademik PT (dalam hal ini penulis beserta mahasiswa dan alumni Universitas Yudharta) bersinergi dengan stakoholders, khususnya masyarakat dusun Surorowo bahu membahu untuk mengurai kendala bersama yang dihadapi oleh mereka.

Mereka yang mayoritas berprofesi sebagai petani sayur mayur dan buah-buahan apel di lereng Gunung Tengger berjibaku dengan keterbatasan medan yang mereka hadapi, sehingga berpengaruh pada akses pendidikan yang terbatas. Sebagai gambaran ilustrasi kondisi di Dusun Surorowo, maka tulisan dari Asnan Prastawa, dkk dalam liputan dari desa-ke desa pada Majalah Balaba, Ed. 007, No. 02 Des 2008 dapat dijadikan sebagai renungan kita bersama bagaimana posisi Dusun tempat tinggal mereka:

“Dusun Surorowo merupakan daerah jajaran Pegunungan Tengger yang terletak memanjang di puncak bukit dan dikelilingi lembah. Setelah melewati jalan sempit beraspal yang mengelupas dan berlubang disana-sini, akhirnya kami sampai di pemukiman di perbukitan ini. Berjarak kurang lebih 6 km dari Kecamatan Tutur dan GPS yang kami bawa menunjukkan ketinggian 1500 m dari permukaan laut. Dinginnya udara maupun airnya terasa menusuk tulang, apalagi bila pagi menjelang. Namun bila sudah beberapa saat akan terasa sejuknya udara disana, apalagi bila memandang hamparan kebun apel yang luas.”

Dari tulisan di atas bisa dibayangkan bagaimana akses tempat mereka berpengaruh terhadap akses pendidikan anak-anak usia dini di Dusun tersebut. Fasilitas pendidikan yang tersedia di Dusun tersebut hanya terdapat SD Negeri, namun dengan fasilitas yang terbatas pula. Baik dari jumlah lokal kelas sampai dengan jumlah siswa yang masuk pada SD Negeri ini.

Hasil observasi menunjukkan bahwa jumlah pagu setiap angkatan antara 3 – 8 anak. Hal ini karena peserta didik hanya dari Dusun Surorowo saja, tidak ada yang dari dusun yang lain. Kondisi dan lokasi Surorowo yang berada di atas bukit, dan “terisolasi” dengan dusun lainnya dengan hutan gunung Bromo “memaksa” jumlah siswa yang kurang dari standar pagu yang ditetapkan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Pasuruan.

Oleh karena itu, ihtiar bersama melalui kegiatan pengabdian masyarakat ini kerjasama antara civitas Universitas Yudharta beserta masyarakat dan berbagai stakoholders di Dusun tersebut semoga dapat terus berkembang dan tumbuh besar sesuai dengan besarnya semangat masyarakat Dusun Surorowo untuk mendampingi putra-putri mereka menjadi lebih baik.