Temu Nasional Lintas Iman dan Budaya (Part 2)

Salah satu agenda Temu Nasional Lintas Iman dan Budaya, pada hari pertama, tanggal 14 November 2016, mendiskusikan tentang berbagai pengalaman para peserta di berbagai daerah. Baik di Klaten Jawa Tengah, Yogyakarta, Banyumas, Lampung, Minahasa, dan banyak kota lainnya.

Banyak pengelaman yang bisa dipetik dalam pengembangan toleransi serta penyelesaian persoalan-persoalan yang timbul dalam dinamika keagamaan dan kebudayaan di masyarakat. Salah satunya catatan yang menarik sebagaimana dipresentasikan oleh FKUB Klaten.

Dalam paparannya yang disampaikan oleh Gus Jazuli, bahwa pada dasarnya, bangsa Indonesia yang memiliki keragaman budaya, dan juga sikap toleran yang tinggi, sehingga bisa dipastikan disetiap desa memiliki kearifan budaya lokal. dengan demikian, desa multikultur pada prinsipnya adalah menjadi bagian inherent di setiap desa di Indonesia.

Untuk menilai desa multikultur, FKUB Kebersamaan mengembangkan berbagai indikator-indikator, dalam pengembangan desa multikultur, diantaranya adalah :

  1. Terdapat kebersamaan warga masyarakat desa, baik di bidang sosial, budaya, agama, ekonomi, dan berbagai bidang lainnya yang bisa dirasakan secara bersama-sama pula oleh warga desa.
  2. Terdapat kekayaan dan kearifan lokal yang menjadi spirit, simbol lokalitas, atau bahkan dikembangkan dalam bentuk wisata budaya.
  3. Tidak pernah terjadi konflik yang berlatar belakang agama, kalaupun ada konflik maka persoalan tersebut bisa diselesaikan oleh mereka sendiri tanpa campur tangan pihak ketiga.
  4. Terdapat tempat ibadah lebih dari satu jenis di desa tersebut.

Berbagai desa multikultur yang berbasis kearifan lokal ini menjadi dasar untuk mengembangkan kerukunan dan toleransi lintas iman. Banyak ragam cara dan strategi yang sudah dilakukan oleh masyarakat di desa Klaten untuk mengembangkan desa multikultur, diantaranya adalah: terdapat program “arisanlintasiman”.

Arisan lintas iman, tidak jauh berbeda dengan arisan-arisan pada umumnya. Namun kegiatan ini menjadi penting sebagai mampu menjadi media untuk “bercerita”. Dalam kegiatan tersebut, para peserta arisan pasti akan bercerita tentang lingkungan mereka, bercerita tentang  budaya mereka, bercerita tentangberbagai problem dan solusi yang sudah dilakukan. Sehingga kebersamaan dan toleransi diantara mereka dengan sendirinya terbangun dengan baik.