Temu Nasional Lintas Iman dan Budaya (Part 1)

Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 10  jam saya Ahmad Marzuki dan Amang Fathurahman—mewakili Universitas Yudharta Pasuruan dan Pondok Pesantren Ngalah — sampai di Panti Semedi, Klaten Jateng hari Senin tanggal 14 November 2016 jam empat sore. Hari Pertama di awali dengan acara Ceremonial yang dihadiri oleh Ibu bupati Klaten, kemudian dilanjutkan perkenalan peserta dari berbagai simpul lintas iman di Indonesia (Halmahera, Minahasa, Lampung, Manado, Jakarta, Pekalongan, Solo,.. dst) serta  sharing bersama tentang pengalaman MULTIKULTUR di daerah masing-masing.

Diskusi awal dimulai dari Gus Jazuli Ketua Forum Kebersamaan Umat Beriman(FKUB) Klaten, sekaligus penanggung jawab Hajatan Temu Nasional Lintas Iman dalam menyemarakkan hari Toleransi Internasional. Pria yang biasa dipanggil Gus Jaz ini menceritakan banyak hal tentang aksi nyata di wilayah Klaten untuk meningkatkan kerukunan dan merawat kebinekaan. Diantaranya menginisiasi keberadaan Mitra Multikultur Indonesia (MMI) yang telah menjalankan berbagai program diantaranya; Posko Bersama untuk keamanan perayaan hari besar lintas Iman, Reaksi Cepat Lintas Iman untuk mengatasi masalah -masalah sosial.

Menurut Gus Jaz, “perlu kiranya perwakilan dari simpul-simpul lintas iman menyampaikan pengalaman di daerah masing-masing, karena mewujudkan perdamaian dan menjaga kearifan budaya lokal merupakan tanggung jawab kita bersama”. Lebih lanjut Gus Jaz mengharapkan Konsep “Desa Multikultur” dapat terrealisasi dengan indikasi sebagai berikut; memiliki tempat ibadah lebih dari satu, memiliki tradisi unik dan simbol-simbol budaya, adanya kebersamaan dalam menangani masalah sosial, ekonomi, dan politik.

Selain diskusi diatas, pada hari berikutnya kegiatan ini rencananya akan dilangsungkan talk show dengan tema “Menyemai Perdamaian di Tengah Perkembangan Multikultur Melalui Kearifan Budaya Lokal dalam Rajutan Kebinekaan” dipandu oleh fasilitator neng Alisa dari The Wahid Institute.