Bentengi Gerakan Radikal Mahasiswa Melalui Toriqoh

Fenomena radikalisme dan positisme di kalangan mahasiswa melahirkan pola pergerakan mahasiswa eklusif dan pragmatis. Pola Pergerakan mahasiswa demikian telah menjadi keprihatinan banyak kalangan. Karena sejarah mengatakan bahwa gerakan mahasiswa telah menorehkan “Tinta Emas” saat perjuangan kemerdekaan hingga gerakan reformasi.

Berangkat dari keperhatian kondisi pemuda tersebut hari ini, jumat (27/10) digelar kegiatan Pekan Penerimaan Anggota MATAN (PPAM) oleh kelompok organisasi MATAN komisariat Universitas Yudharta Pasuruan di gedung perkuliahan lt.4.

Dalam acara PPAM dihadiri oleh pembicara-pembicara dari Pengurus Cabang Pasuruan dan diikuti oleh puluhan mahasiswa Universitas Yudharta Pasuruan.

Dalam sejarah MATAN dikatakan bahwa MATAN merupakan konsepsi pendidikan lama dizamanya walisongo yang hari ini coba di angkat kembali untuk membentengi gerakan-gerakan mahasiswa yang radikal hari ini. Seperti yang dsampaikan oleh Ketua PC MATAN Pasuruan Gus Bahrul mengungkapkan bahwa MATAN adalah gaya gerakan mahasiswa asli Nusantara.

Selanjutnya, dengan melihat keadaan Toriqoh yang masih dianggap langkah dikalangan mahasiswa. Ketua Komisariat Universitas Yudharta Pasuruan Imam Mustofa mengatakan bahwa Toriqoh tidak seperti yang apa yang berada di pikiran kita, bahwa toriqoh diikuti oleh kelompok-kelompok orang yang ilmu agamanya tinggi dan tidak peduli dengan duniawi. Tetapi Toriqoh adalah jalan manusia untuk menyeimbangkan antara pemikiran dan hati.

“Toriqoh diambil karena untuk menyeimbangkan gerakan pemikiran dan hati bukan seperti yang kebanyakan oleh mahasiswa soal toriqoh,” pungkasnya. (mk)