Tokoh Lintas Agama Jerman Datangi Yudharta

 

Pasuruan, Selasa 11 Oktober 2016 Universitas Yudharta kembali didatangi beberapa tokoh agama dari Jerman. Mereka tidak hanya dari kalangan Muslim saja namun juga dari agama Kristen. Maksud tujuan mereka adalah ingin mengetahui dan belajar bersama tentang kerukunan antar umat beragama yang ada di Indonesia khususnya di tanah Jawa ini, begitu menurut ucapan ibu Sabine selaku koordinator tokoh agama dari Jerman yang beragama Kristen.

Dalam pertemuan tersebut ada dialog antar agama yang membahas strategi dakwah kerukunan antar umat beragama yang menjadikan kehidupan beragama dan bernegara tetap harmonis dan damai sejahtera. Saat sambutan, Pendeta Suwarno selaku pendamping kegiatan ini mengatakan ” lebih dari 25 tokoh agama dari Jerman baik dari Islam maupun Kristen yang berkunjung. Setengah dari itu ada yang ditugaskan berkunjung di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang dan setengahnya yang lain berkunjung di Pondok Pesantren Ngalah Pasuruan. Tentu saja maksud kedatangan mereka adalah memperkuat perdamaian antar umat beragama yang ada di Jerman”. Kemudian dilanjutkan sambutan Rektor Universitas ini Bapak Saifullah “Sudah ada kunjungan dari tokoh Jerman sebanyak 4 kali pada tahun ini. Tujuan mereka tidak lain adalah MOU (Red:kerjasama) untuk misi perdamaian antar umat beragama. Tepat sekali strategi kunjungan pada hari ini, karena dibagi menjadi 2 group, ada yang kesini (pondok Ngalah/kampus Yudharta) dan ada yang ke pondok Pesantren Tebuireng. Karena Kyai Sholeh yang selama ini dikenal penerus perjuangan perdamaian antar umat beragama setelah Gus Dur wafat”. Bapak Rektor menambahkan, “pada tanggal 29 Oktober 2016 yang akan kedatangan Universitas Yudharta akan kembali kedatangan tamu dari Universitas Petra Surabaya untuk melakukan dialog tentang kehidupan keberagamaan.

Selanjutnya sambutan dari Ibu Sabine “Pemerintah Jerman tidak memiliki kebijakan khusus dalam kaitannya dengan identitas agama masyarakatnya. Tidak ada keterangan agama di KTP Jerman. Sekolahpun juga tidak semua mengajarkan matakuliah agama pada siswanya. Jadi kalau dari keluarga tidak mengajarkan tentang agama maka siswa tersebut tidak akan beragama artinya dia tidak menganut agama apapun.”