{"id":4312,"date":"2017-03-18T12:40:08","date_gmt":"2017-03-18T05:40:08","guid":{"rendered":"http:\/\/yudharta.ac.id\/?p=4312"},"modified":"2017-03-18T12:40:08","modified_gmt":"2017-03-18T05:40:08","slug":"alumni-uyp-berhasil-meraih-doktor","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/yudharta.ac.id\/staging\/alumni-uyp-berhasil-meraih-doktor\/","title":{"rendered":"Alumni UYP berhasil meraih gelar doktor"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-size: 16px;\">Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya kembali menggelar Wisuda ke-78. Sebanyak 594 mahasiswa yang lulus mulai dari gelar Sarjana hingga Doktoral. Mereka adalah sarjana strata 1 (S1) sebanyak 545 wisudawan, strata 2 (S2) sebanyak 37 wisudawan, dan strata 3 (S3) hanya 12 wisudawan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 16px;\">Di antara 12 wisudawan Doktor tersebut, M. Anang Sholikhudin, S.Pd.I, M.PdI, berhasil meraih gelar doktoral saat usia realtif muda, 35 tahun. Dr. Anang telah meraih predikat sangat memuaskan dengan menulis Disertasi yang berjudul \u201cKiai Multikultural: Kiai M. Soleh Bahruddin dan Implementasi Multikulturalisme dalam Sistem pendidikan di Universitas Yudharta Pasuruan&#8221;. \u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 16px;\">Dr. Anang merupakan salah satu Dosen sekaligus alumni Universitas Yudharta Pasuruan (UYP) angkatan 2000 yang berhasil meraih gelar Doktor program studi Dirasat Isalmiyah Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 16px;\">Walaupun ada banyak tekanan dan tantangan, baik materi maupun mental tetapi tidak menyurutkan tekad Anang untuk meraih gelar akademik tinggi. \u201cBarang siapa mencari Ilmu Allah pasti akan dicukupi oleh Allah,\u201d ujar Anang yang juga menjabat sebagai Kepala Perpustakaan UYP sebagaimana dilansir yudharta.ac.id\/staging\/, Sabtu (18\/03).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 16px;\">Anang pernah mendapat Beasiswa BPP Diktis Kementerian Agama pada tahun 2014. Selain prestasi akademik, Anang juga pernah mendapatkan beasiswa Short Course penelitian Islam berbasis \u00a0Gender Dalam Negeri dari Subdit Penelitian Publikasi dan Pengabdian kepada Masyarakat Diktis Kemenag yang bekerjasama dg PBNU pada tahun 2012 lalu.<\/span><\/p>\n<p>Tidak berhenti di situ, wisudawan ini berniat melanjutkan pendidikannya ke jenjang Post Doctoral. \u201cMencari ilmu sepanjang hayat, tak ada kata puas\u201d kata Anang.<\/p>\n<p><span style=\"font-size: 16px;\">Setelah diwisuda, Anang berencana kembali ke Pasuruan, tepatnya di Pondok Pesantren Ngalah dan UYP. Sebab, jumlah sumber daya manusia, terutama lulusan Doktoral di Pasuruan masih sangat minim. Anang merupakan pakar bidang Pendidikan Multikultural.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 16px;\">Rektor UIN Sunan Ampel, Abdul A\u2019la, berharap lulusan UINSA Surabaya dapat mengabdikan diri di masyarakat dengan menunjukkan integritas dan profesionalismenya. Apalagi, UINSA dikenal sebagai kampus yang dekat dengan masyarakat. \u201cKita dekat dengan masyarakat, karena pada tahun lalu UINSA meraih penghargaan Best Community Patners dari Wali Kota Surabaya, Ibu Tri Rismaharini,\u201d kata A\u2019la.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 16px;\">Selain berintegritas dan profesional, A\u2019la juga berharap wisudawan dapat berkomunikasi yang baik di masyarakat. \u201cWalau bagaimanapun kita membutuhkan bantuan orang lain, kita tidak bisa hidup sendirian di masyarakat,\u201d ujarnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-size: 16px;\">Terakhir, A\u2019la meminta wisudawan untuk menjaga keutuhan NKRI. \u201cNKRI merupakan rahmat yang harus kita syukuri,\u201d kata A\u2019la.<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya kembali menggelar Wisuda ke-78. Sebanyak 594 mahasiswa yang lulus mulai dari gelar Sarjana hingga Doktoral. Mereka adalah sarjana strata 1 (S1) sebanyak 545 wisudawan, strata 2 (S2) sebanyak 37 wisudawan, dan strata 3 (S3) hanya 12 wisudawan. Di antara 12 wisudawan Doktor tersebut, M. Anang Sholikhudin, S.Pd.I, M.PdI, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":4318,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[92],"tags":[],"class_list":["post-4312","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/yudharta.ac.id\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4312","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/yudharta.ac.id\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/yudharta.ac.id\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/yudharta.ac.id\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/yudharta.ac.id\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4312"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/yudharta.ac.id\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4312\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/yudharta.ac.id\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4318"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/yudharta.ac.id\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4312"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/yudharta.ac.id\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4312"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/yudharta.ac.id\/staging\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4312"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}