Studi Multikultural Ciamsi sebuah Tradisi Tiongkok Kuno di Klenteng Dewi Kwan Im Pesarean Gunung Kawi Malang Jawa Timur
Malang, 25 Mei 2025 — Sebuah kegiatan Studi Multikultural yang dilakukan oleh tim Universitas Yudharta Pasuruan menjadi sarat nilai toleransi dan pemahaman lintas budaya digelar di Klenteng Dewi Kwan Im, Pesarean Gunung Kawi, Malang, Jawa Timur. Kegiatan ini diikuti oleh sejumlah akademisi dari berbagai disiplin ilmu, khususnya yang fokus pada kajian multikulturalisme dan studi agama.
Turut hadir dalam kegiatan ini antara lain Wiwin Fachrudin Yusuf, M.A. (Kepala Pusat Religius Pluralistik), Dr. A. Marzuki (Ketua Program Studi Pascasarjana Multikultural), Dr. A. Yusuf, M.Pd. (Dekan Fakultas Agama Islam), serta para dosen dari rumpun kajian Multikultural.
Rangkaian studi diawali dengan tradisi nyekar (ziarah) ke makam tokoh spiritual Eyang Jugo (R. Zakariya II) dan RM. Iman Sudjono. Setelah itu, peserta diajak mengenal lebih dekat tradisi Ciamsi, sebuah praktik ramalan kuno dari Tiongkok yang hingga kini masih dilestarikan di Klenteng Dewi Kwan Im.
Bp. Sholihin, selaku juru kunci Ciamsi di klenteng tersebut, menjelaskan proses ritual Ciamsi kepada para peserta. “Cara melakukannya adalah dengan mengocok media bambu hingga keluar satu batang bambu yang memiliki nomor. Nomor ini kemudian dicocokkan dengan penjelasan yang terdapat dalam kitab ramalan yang telah disiapkan,” terang beliau.
Tradisi Ciamsi ini diyakini sebagai bentuk pencarian petunjuk atau jawaban atas berbagai pertanyaan hidup, dan seringkali dilakukan oleh peziarah yang datang dengan harapan tertentu. Dalam suasana khidmat namun penuh rasa ingin tahu, para dosen dan peserta studi turut mencoba praktik Ciamsi ini secara langsung, sebagai bagian dari pengalaman pembelajaran multikultural.
Kegiatan ini tidak hanya memperkenalkan tradisi spiritual Tiongkok kepada kalangan akademisi, namun juga menjadi ajang dialog budaya dan spiritual yang memperkuat pemahaman lintas kepercayaan.
Dengan adanya kegiatan seperti ini, diharapkan nilai-nilai toleransi, penghargaan terhadap keberagaman, dan pengayaan wawasan multikultural dapat terus dikembangkan dalam dunia akademik maupun kehidupan bermasyarakat.


