Pengarahan Toolbox Talk Pada Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Lingkungan Universitas Yudharta Pasuruan
Keselamatan dan kesehatan kerja selalu menjadi prioritas utama di lingkungan Universitas Yudharta Pasuruan. Guna memastikan setiap kegiatan yang melibatkan pekerjaan fisik, praktikum di bengkel, maupun aktivitas lapangan berjalan aman, tim dosen dan pengawas secara disiplin menerapkan prosedur Safety Briefing atau yang lazim dikenal dengan istilah Toolbox Talk.
Penerapan prosedur ini terlihat dalam kegiatan pengarahan singkat yang dilakukan sebelum tim memulai pekerjaannya. Berdasarkan pantauan di lokasi, interaksi yang intens dan fokus terjadi antara dosen pengawas lapangan dengan para teknisi dan mahasiswa.
Dalam pengarahan tersebut, seluruh personel tampak telah mengenakan Alat Pelindung Diri (APD) secara lengkap dan sesuai standar. Mulai dari penggunaan safety helmet (helm keselamatan), rompi reflektor bersinar tinggi (high-visibility vest), hingga pakaian pelindung menyeluruh (coverall/wearpack) berwarna merah yang dipadukan dengan pelindung telinga dan sepatu bot (safety boots).

Pengarahan Toolbox Talk ini didesain sebagai pertemuan singkat namun krusial, yang bertujuan untuk:
- Identifikasi Bahaya (Hazard Identification): Membahas potensi risiko spesifik yang mungkin terjadi di lokasi kerja atau area praktikum pada hari tersebut.
- Review SOP Keselamatan: Mengingatkan kembali Standar Operasional Prosedur terkait penggunaan alat berat atau mesin, serta jalur evakuasi.
- Cek Kesiapan Personel: Memastikan kelengkapan APD masing-masing individu serta kondisi fisik dan mental peserta sebelum terjun ke lapangan.
Menariknya, briefing ini dilakukan langsung di area operasional gedung, berdekatan dengan akses tangga dan titik penempatan Alat Pemadam Api Ringan (APAR). Hal ini bertujuan agar seluruh tim langsung mengenali letak fasilitas tanggap darurat jika sewaktu-waktu terjadi insiden yang tidak diinginkan.
Melalui rutinitas Safety Briefing yang konsisten ini, Universitas Yudharta Pasuruan membuktikan komitmennya dalam menanamkan safety culture (budaya keselamatan) sejak dini. Langkah preventif ini diharapkan tidak hanya sekadar menggugurkan kewajiban prosedural, melainkan benar-benar mampu menekan angka risiko kecelakaan hingga mencapai target zero accident di seluruh lingkungan sivitas akademika.
