Diklat Studi Lingkungan Hidup Saunggalih di Wonosunyo, Wadah Pembentukan Potensi Diri dan Kepedulian Lingkungan
Wonosuyo, 6 November 2024 — Pendidikan dan Latihan Dasar Studi Lingkungan Hidup (Diklat SLH) Saunggalih telah berlangsung selama tiga hari, dari Jumat hingga Minggu, 1-3 November 2024, di Gubug Mente, Desa Wonosunyo, Gempol. Acara ini diikuti oleh sembilan peserta yang berkomitmen untuk memperdalam pengetahuan dan keterampilan mereka dalam menjaga lingkungan hidup dan bertahan di alam terbuka.
Mengusung tema “Butiran Aksi, Samudra Perubahan” yang bermakna langkah kecil untuk alam menuju perubahan besar bagi kehidupan, diklat ini menghadirkan beragam materi praktis, di antaranya navigasi darat (Navdar), survival, dan konservasi lingkungan. Para peserta didampingi oleh instruktur untuk menguasai teknik bertahan hidup dalam kondisi darurat serta memahami nilai penting konservasi lingkungan.
Survival, sebagai salah satu materi utama, menekankan kemampuan untuk tetap bertahan dalam situasi yang penuh tantangan. “Survival” berasal dari bahasa Inggris, berarti bertahan hidup, yang mencerminkan kemampuan dasar yang harus dimiliki seseorang ketika berada dalam situasi tak terduga atau lingkungan yang menantang.
Anggita, selaku panitia acara ini, menuturkan, “Diklat SLH Saunggalih bukan sekadar pelatihan, tetapi sebuah perjalanan untuk menemukan potensi diri yang terpendam. Di sini, kami belajar tentang alam, kepemimpinan, dan persaudaraan yang sejati.”
Kegiatan seperti ini diharapkan menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk meningkatkan kesadaran dan kepedulian terhadap lingkungan hidup. Diklat SLH Saunggalih tidak hanya memberikan ilmu, tetapi juga pengalaman langsung dalam menghadapi alam yang penuh tantangan, membentuk karakter, dan menumbuhkan jiwa kepemimpinan serta solidaritas antar sesama.
