Ngaji Bareng “Sewindu Gusdur” bersama Kepala Program Pascasarjana Magister PAI Universitas Yudharta
Kepala Program Magister PAI Universitas Yudharta Pasuruan menjadi narasumber dalam acara Ngaji Bareng dengan tema “Memahami Pemikiran Gus Dur dalam Beragama dan Berbangsa”. Acara ini digelar oleh komunitas Gitu Saja Kok Repot, Gusdurian Pasuruan, dan STAPA Bangil.
Anang sebagai narasumber menjelaskan, warisan paling berharga bagi Indonesia dan Peradaban dunia Islam adalah sosok Gus Dur dengan sikap dan pemikirannya, meskipun sudah tutup usia akan tetapi ide-idenya masih bisa dirasakan dan harus dilanjutkan untuk mengisi peradaban baru ke-Islaman dan ke-Indonesian pada setiap masa.
Diantara warisan yang harus dilanjutkan dalam perspektif akademik adalah:
- Memahami prisma pemikiran Gus Dur yakni (mengikuti peradaban timur tengah, peradaban barat akan tetapi dengan mempertahankan kultur pesantren sebagai identitas Islam Nusantara).
- Membuka ruang Ijtihad Tathbiqi (penerapan hukum Islam) secara akomodatif sesuai dengan realitas masyarakat Nusantara, sehingga praktek ke-Islaman tidak bertabrakan dengan kultur yang sudah ada.
- Penerapan maqasid shari’ah (5 jaminan keselamatan) untuk memperjuangkan keadilan dan HAM kepada semua manusia dengan penuh toleran dan egaliter.
Pesan khusus: Bahwa generasi NU tidak boleh menjadi bodoh, karena kebodohan akan menjadi makanan orang yang pintar.
Oleh: An
